AKU SESUAI DENGAN PRASANGKA HAMBAKU
Maksudnya,
Allah akan berbuat kepada hamba-Nya sesuai dengan persangkaannya. Tidak
diragukan bahwa persangkaan yang baik berkaitan dengan perbuatan yang baik
pula. Orang yang berbuat kebaikan akan berbaik sangka kepada Rabbnya, yaitu Dia
akan membalas perbuatan baik itu, tidak mengingkari janji-Nya, serta akan
menerima taubatnya.
Adapun orang yang melakukan keburukan dan terus-menerus berbuat dosa besar, kezhaliman, dan penyimpangan terhadap syariat, maka kegelisahan serta ketakutan yang timbul dari kemaksiatan, kezhaliman, juga perkara yang haram akan menghalangi pelakunya untuk berprasangka baik kepada Rabbnya.
Ini bisa disaksikan dalam realita sehari-hari. Budak yang melarikan
diri, memiliki perilaku yang buruk, dan tidak taat kepada majikannya tentu
tidak akan berbaik sangka kepada majikannya.
Al-Hasan al-Bashri berkata: "Sesungguhnya orang Mukmin itu berbaik sangka kepada Rabbnya sehingga ia pun melakukan amalan yang baik. Sebaliknya, sesungguhnya orang yang durhaka itu bersikap buruk sangka kepada Rabbnya sehingga ia pun melakukan amalan yang buruk." (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd).
Bagaimana mungkin seseorang akan berbaik sangka kepada Rabbnya jika ia lari dari-Nya, berpindah-pindah dari satu kemurkaan Allah kepada kemurkaan-Nya yang lain, menjerumuskan dirinya ke dalam laknat-Nya, merendahkan dan menyia-nyiakan hak dan perintah-Nya, serta meremehkan larangan-Nya sehingga mengerjakan dan terus-menerus melakukannya?
Bagaimana mungkin seseorang berbaik sangka kepada Rabbnya jika ia menantang untuk memerangi-Nya, memusuhi para wali-Nya, menolong musuh-musuh-Nya, mengingkari sifat kesempurnaan-Nya, berburuk sangka tentang sifat yang Dia tetapkan bagi-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya, serta menyangka dengan kebodohannya bahwa penetapan sifat-sifat-Nya merupakan kesesatan dan kekufuran? Bagaimana mungkin seseorang berprasangka baik terhadap Dzat yang disangkanya tidak berbicara, tidak memberi perintah, tidak melarang, tidak ridha, dan tidak murka?
Sungguh, Allah berfirman mengenai orang yang ragu terhadap keterkaitan pendengaran-Nya dengan hal-hal yang bersifat parsial. Inilah rahasia dari firman-Nya:
وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِى ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَىٰكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
"Dan itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Rabbmu (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang rugi" (QS. Fushshilat ayat 23)
Orang-orang itu menyangka Allah tidak mengetahui sebagian besar perbuatan mereka. Ini merupakan persangkaan buruk mereka kepada Allah. Persangkaan ini pulalah yang kemudian membinasakan mereka. Begitulah kondisi setiap orang yang menentang sifat-sifat kesempurnaan dan karakteristik kemuliaan-Nya, serta menyifati-Nya dengan hal-hal yang tidak pantas bagi-Nya. Jika ia menyangka bahwa Allah akan memasukkannya ke Surga, berarti dirinya benar-benar telah tertipu, teperdaya, dan dikuasai syaitan, bukan karena baik sangkanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Perhatikan baik-baik dan renungkan betapa pentingnya hal ini! Bagaimana
mungkin di dalam hati seorang hamba berkumpul keyakinan bahwasanya ia akan
bertemu Allah, Dia mendengar perkataannya, melihat di mana dia berada,
mengetahui apa yang tampak dan tersembunyi pada dirinya, tidak satu pun
rahasianya yang tersembunyi dari-Nya, dan dia akan berdiri di hadapan-Nya,
serta ia akan diminti pertangeungjawaban atas semua perbuatannya, sementara itu
ia justru melakukan hal-hal yang membuat-Nya murka, mengacuhkan
perintah-perintah-Nya, dan mengabaikan hak-hak-Nya. Meskipun demikian, ia
menganggap diri masih tetap berbaik sangka kepada-Nya. Bukankah semua ini
bersumber dari jiwa yang tertipu dan angan-angan kosong belaka?